Mengenali Gejala Kekurangan Nutrisi pada Tanaman Sawit

Daun merupakan salah satu bagian dari tanaman yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi pertumbuhannya. Hal ini juga berlaku untuk tanaman kelapa sawit. Tanaman sawit yang sehat umumnya memiliki daun berwarna hijau tua dan kuat. Sebaliknya, perubahan warna maupun bentuk daun dapat menjadi tanda bahwa tanaman sawit mengalami gangguan, termasuk ketika kebutuhan nutrisinya belum terpenuhi.

Salah satu gejala yang mudah dikenali adalah warna daun yang berubah menjadi pucat atau kekuningan. Gejala ini dapat berkaitan dengan kondisi tanaman yang kekurangan unsur hara tertentu. Kekurangan nitrogen (N), misalnya, dapat membuat daun berubah dari hijau menjadi lebih pucat hingga kekuningan. Kekurangan magnesium (Mg) juga dapat menyebabkan perubahan warna pada daun yang lebih tua menjadi kuning sampai kering, sedangkan kekurangan kalium (K) dapat ditandai dengan munculnya bercak pada daun. Sementara itu, kekurangan boron (B) dapat memengaruhi bentuk dan perkembangan daun muda menjadi lebih pendek.

Masalah nutrisi semacam ini telah dipaparkan dalam salah satu riset yang dilakukan oleh peneliti gabungan (dari dalam dan luar negeri) terhadap 973 lahan skala kecil yang terletak di seluruh wilayah penghasil kelapa sawit di Indonesia. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Agricultural Systems pada tahun 2023 ini menunjukkan bahwa kekurangan kalium ditemukan pada 88% kebun yang diteliti. Hampir dua pertiga kebun juga mengalami kekurangan nitrogen dan boron, sekitar setengahnya mengalami kekurangan fosfor, dan sekitar sepertiganya mengalami kekurangan magnesium. Penelitian tersebut juga menemukan adanya ketidakseimbangan antar unsur hara di banyak kebun.

Kondisi tersebut membantu menjelaskan mengapa tanaman dapat tetap menunjukkan pertumbuhan yang kurang optimal meskipun pemupukan telah dilakukan. Pada penelitian lain yang dilakukan terhadap 49 lahan sawit skala kecil milik petani di Indonesia (24 di Sintang, Kalimantan Barat, dan 25 di Jambi), praktik pemupukan yang dilakukan sering kali belum sesuai dengan kebutuhan tanaman. Kekurangan unsur hara, terutama kalium dan fosfor, diperkirakan turut berkontribusi terhadap pertumbuhan vegetatif yang berada di bawah kondisi optimal. Ukuran daun juga ditemukan lebih kecil dari kondisi yang diharapkan pada lebih dari 80% kebun yang diteliti.

Dari dua penelitian ini bisa disimpulkan bahwa keberhasilan pemupukan tidak cukup dilihat dari seberapa sering atau seberapa banyak pupuk diberikan. Jenis dan keseimbangan unsur hara juga perlu diperhatikan. Tanaman membutuhkan unsur hara dalam jumlah dan proporsi yang sesuai untuk mendukung pertumbuhan akar, batang, dan daun. Pemberian unsur hara yang tidak seimbang dapat membuat kebutuhan tanaman tidak terpenuhi, sementara unsur lain justru diberikan dalam jumlah berlebih.

Kebutuhan tersebut menjadi salah satu pertimbangan PT Weha Agro Sejahtera dalam mengembangkan NPK Nagaemas. Untuk mendukung pertumbuhan vegetatif, Nagaemas Hijau hadir dengan formulasi NPK 16-16-16 yang memiliki komposisi hara seimbang. Formulasi ini ditujukan untuk mendukung pertumbuhan akar, batang, dan daun. Nagaemas juga diproduksi sebagai pupuk NPK granular dengan formulasi nutrisi dan mutu fisik yang terkontrol untuk menjaga konsistensi produk.

Ketika pertumbuhan sawit belum optimal meskipun pemupukan telah dilakukan, evaluasi terhadap kebutuhan nutrisi tanaman menjadi hal yang penting. Memahami kebutuhan unsur hara dan menjaga keseimbangannya dapat membantu petani menentukan pemupukan yang lebih tepat. Dengan pemenuhan nutrisi yang sesuai, pertumbuhan akar, batang, dan daun dapat didukung secara lebih optimal.